Banyak seller melihat omzet sebagai angka utama dalam bisnis.
Omzet Rp10 juta terlihat bagus.
Rp50 juta terlihat lebih bagus.
Bahkan ketika penjualan sudah mencapai ratusan juta per bulan, bisnis bisa terlihat sangat sehat dari luar.
Tapi ada satu pertanyaan yang sering terlambat ditanyakan:
“Setelah semua potongan marketplace, sebenarnya berapa uang yang tersisa?”
Karena omzet bukan berarti profit.
Setiap transaksi marketplace bisa melibatkan beberapa komponen biaya, mulai dari biaya administrasi, biaya proses pesanan, biaya layanan program, promo, iklan, hingga biaya operasional lainnya.
Dan semakin besar transaksi, semakin penting bagi seller untuk menghitungnya dengan benar.
Marketplace Potong Berapa dari Setiap Transaksi?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua seller.
Besarnya potongan marketplace dapat berbeda berdasarkan platform, kategori produk, status seller, program yang diikuti, serta jenis layanan yang digunakan.
Sebagai contoh, dalam ketentuan resmi Shopee, biaya administrasi seller dapat berbeda berdasarkan kategori produk dan status seller. Untuk seller Star/Star+, misalnya, Shopee mencantumkan tarif biaya administrasi mulai dari 2,50% hingga 10,00%, tergantung kategori produk.
Artinya, mengatakan “marketplace memotong 10%” saja sebenarnya belum cukup.
Seller perlu melihat seluruh komponen biaya yang benar-benar dikenakan pada tokonya.
Beberapa biaya yang perlu diperhatikan antara lain:
| Komponen | Contoh yang perlu dihitung |
|---|---|
| Biaya administrasi | Persentase dari transaksi sesuai kategori/status seller |
| Biaya proses pesanan | Biaya tetap per transaksi |
| Biaya layanan program | Misalnya program gratis ongkir atau promo |
| Biaya iklan | Budget untuk mendapatkan traffic |
| Voucher/promo seller | Diskon yang ditanggung seller |
| Retur/operasional | Potensi biaya tambahan akibat transaksi |
Jadi, fee marketplace bukan hanya satu potongan.
Inilah yang sering membuat seller merasa omzetnya besar, tetapi profit akhirnya tidak sebesar yang dibayangkan.
Contoh: Omzet Rp10 Juta, Berapa yang Tersisa?
Sekarang kita buat simulasi sederhana.
Misalnya sebuah toko mendapatkan:
- Omzet: Rp10.000.000
- Jumlah transaksi: 100 order
- Rata-rata nilai transaksi: Rp100.000
Untuk mempermudah simulasi, kita gunakan contoh biaya administrasi 8%.
Catatan: angka 8% di sini adalah contoh simulasi, bukan tarif universal marketplace. Tarif aktual harus dicek berdasarkan platform, kategori produk, status seller, dan program yang diikuti.
Maka:
Biaya administrasi = 8% × Rp10.000.000
Hasilnya:
Rp800.000
Omzet setelah biaya administrasi:
Rp9.200.000
Tetapi belum selesai.
Jika setiap transaksi juga dikenakan biaya proses sebesar Rp1.250, maka:
100 transaksi × Rp1.250 = Rp125.000
Sisa setelah dua komponen tersebut:
Rp9.075.000
Jadi dari omzet Rp10 juta, sebelum menghitung modal produk, iklan, promo, retur, dan biaya operasional lainnya, uang yang tersisa dalam simulasi ini sudah menjadi:
Rp9.075.000
Terlihat masih besar?
Memang.
Tetapi jangan lupa: Rp9,075 juta itu bukan profit.
Itu baru omzet yang tersisa setelah dua jenis potongan.
Baca juga: Biaya Komisi Marketplace Indonesia 2026: Shopee, Tokopedia, Lazada & TikTok Shop [Data Lengkap]
Biaya Proses Rp1.250 Terlihat Kecil, Tapi Coba Kalikan
Salah satu biaya yang mudah diabaikan adalah biaya tetap per transaksi.
Dalam ketentuan layanan Shopee, terdapat Biaya Proses Pesanan sebesar Rp1.250 per transaksi selesai. Shopee juga menyebutkan bahwa seller Non-Star mendapatkan pembebasan biaya tersebut untuk 50 pesanan pertama seumur hidup toko, dengan ketentuan yang berlaku.
Sekilas Rp1.250 memang terlihat kecil.
Tapi coba lihat skalanya.
| Jumlah transaksi | Biaya Rp1.250/transaksi |
|---|---|
| 100 order | Rp125.000 |
| 500 order | Rp625.000 |
| 1.000 order | Rp1.250.000 |
| 5.000 order | Rp6.250.000 |
Di sinilah volume transaksi mulai berpengaruh.
Semakin besar bisnis, biaya yang terlihat kecil per transaksi bisa berubah menjadi angka jutaan rupiah dalam satu bulan.
Bagaimana Kalau Biaya Administrasinya Berbeda?
Sekarang kita bandingkan beberapa skenario.
Misalnya omzet tetap Rp10 juta dan jumlah transaksi tetap 100 order.
| Biaya Administrasi | Potongan Admin | Biaya Proses | Sisa Sebelum Biaya Lain |
|---|---|---|---|
| 2,5% | Rp250.000 | Rp125.000 | Rp9.625.000 |
| 5% | Rp500.000 | Rp125.000 | Rp9.375.000 |
| 8% | Rp800.000 | Rp125.000 | Rp9.075.000 |
| 10% | Rp1.000.000 | Rp125.000 | Rp8.875.000 |
Perbedaannya mungkin terlihat sederhana.
Tetapi ketika omzet berubah menjadi Rp100 juta?
Angkanya ikut berubah sepuluh kali lipat.
Dengan asumsi yang sama:
| Biaya Administrasi | Potongan dari Rp100 Juta |
|---|---|
| 2,5% | Rp2.500.000 |
| 5% | Rp5.000.000 |
| 8% | Rp8.000.000 |
| 10% | Rp10.000.000 |
Itu baru biaya administrasi.
Belum termasuk biaya proses, iklan, promo, layanan tambahan, dan biaya operasional bisnis.
Semakin besar omzet, semakin penting menghitung fee secara detail.
Gratis Ongkir Juga Bisa Menambah Biaya
Program gratis ongkir memang sangat menarik bagi pembeli.
Namun dari sisi seller, program tersebut tidak selalu berarti “gratis”.
Dalam ketentuan resmi Program Gratis Ongkir XTRA Shopee, seller peserta program dikenakan biaya layanan tambahan yang dihitung berdasarkan kategori produk. Shopee juga menjelaskan bahwa biaya layanan ini merupakan biaya tambahan di luar biaya administrasi seller.
Artinya, seller yang mengikuti program tertentu perlu menghitung:
Biaya administrasi + biaya layanan program
bukan hanya melihat satu potongan saja.
Misalnya dalam simulasi sederhana:
- Omzet: Rp10.000.000
- Biaya administrasi: 8%
- Biaya layanan program: 4%
- Biaya proses: Rp125.000
Maka:
Biaya administrasi: Rp800.000
Biaya layanan: Rp400.000
Biaya proses: Rp125.000
Total potongan:
Rp1.325.000
Sisa:
Rp8.675.000
Sekali lagi, angka ini hanyalah simulasi untuk menunjukkan cara menghitung. Tarif aktual dapat berbeda berdasarkan kategori, status seller, program, dan kebijakan marketplace.
Baca juga: Gratis Ongkir Marketplace: Benarkah Gratis untuk Seller? Ini Biaya yang Sering Terlewat
Belum Termasuk Biaya Iklan Marketplace
Ini bagian yang sering membuat perhitungan semakin menarik.
Marketplace memang menyediakan traffic.
Tetapi ketika persaingan semakin tinggi, banyak seller akhirnya menggunakan iklan agar produknya tetap mendapatkan exposure.
Misalnya dari omzet Rp10 juta, seller mengeluarkan:
Rp1.000.000 untuk iklan.
Jika sebelumnya sisa setelah biaya administrasi, layanan, dan proses adalah Rp8.675.000, maka setelah biaya iklan:
Rp7.675.000
Sekarang bayangkan bisnis tersebut memiliki modal barang sebesar Rp5.000.000.
Maka:
Rp7.675.000 − Rp5.000.000 = Rp2.675.000
Angka Rp2,675 juta inilah yang mulai mendekati gambaran profit kotor setelah beberapa biaya penjualan.
Belum termasuk:
- gaji,
- gudang,
- packing,
- retur,
- listrik,
- software,
- pajak,
- dan biaya operasional lainnya.
Jadi sekali lagi:
Omzet besar tidak otomatis berarti profit besar.
Kenapa Seller Sering Salah Menghitung Profit?
Karena seller biasanya menghitung seperti ini:
Harga jual − modal produk = keuntungan
Padahal dalam marketplace, rumus sederhananya tidak cukup.
Seller perlu mempertimbangkan:
Harga jual − modal − fee marketplace − promo − iklan − operasional = profit
Dan setiap bisnis mempunyai struktur biaya yang berbeda.
Produk dengan margin 40% mungkin masih cukup nyaman setelah terkena beberapa biaya.
Tetapi produk dengan margin 10% bisa langsung terasa berat ketika total biaya penjualannya mencapai beberapa persen dari omzet.
Itulah mengapa seller perlu menghitung margin setelah seluruh biaya, bukan hanya melihat omzet.
Omzet Rp100 Juta Belum Tentu Lebih Sehat dari Rp50 Juta
Ini mungkin terdengar aneh.
Tetapi bisnis dengan omzet Rp100 juta belum tentu lebih sehat daripada bisnis dengan omzet Rp50 juta.
Contohnya:
Bisnis A
Omzet: Rp100 juta
Total biaya penjualan: Rp30 juta
Sisa sebelum biaya operasional: Rp70 juta
Bisnis B
Omzet: Rp50 juta
Total biaya penjualan: Rp10 juta
Sisa sebelum biaya operasional: Rp40 juta
Secara omzet, Bisnis A memang lebih besar.
Tetapi jika biaya operasional dan modalnya jauh lebih tinggi, belum tentu profit akhirnya jauh lebih baik.
Karena itu, ketika bisnis mulai scale up, pertanyaannya tidak lagi hanya:
“Berapa omzet bulan ini?”
Tetapi juga:
“Berapa biaya untuk menghasilkan omzet tersebut?”
Marketplace Tetap Penting, Tapi Jangan Hanya Mengandalkannya
Marketplace bukan sesuatu yang harus ditinggalkan.
Justru marketplace bisa menjadi channel yang sangat berguna untuk mendapatkan customer baru.
Masalahnya muncul ketika seluruh bisnis hanya bergantung pada satu platform.
Ketika fee berubah, strategi promo berubah, algoritma berubah, atau biaya iklan meningkat, bisnis ikut terdampak.
Karena itu, banyak brand mulai membangun channel digital sendiri.
Salah satunya melalui website ecommerce.
Website bukan berarti menggantikan marketplace.
Tetapi memberikan bisnis jalur penjualan tambahan yang lebih bisa dikontrol sendiri.
Baca juga: Cara Lepas dari Ketergantungan Marketplace: Panduan Lengkap untuk Brand Indonesia
Website Bisa Membantu Mengurangi Ketergantungan pada Fee Marketplace
Bayangkan customer yang sudah mengenal brand kamu.
Daripada setiap repeat order selalu terjadi melalui marketplace, bisnis dapat mengarahkan sebagian customer untuk melakukan transaksi melalui website sendiri.
Dengan begitu, bisnis bisa memiliki ruang yang lebih besar untuk:
- mengatur strategi promosi,
- membangun database customer,
- meningkatkan repeat order,
- mengembangkan branding,
- dan mengelola customer journey sendiri.
Bukan berarti semua transaksi harus dipindahkan.
Marketplace tetap bisa digunakan untuk acquisition.
Website dapat digunakan untuk membangun hubungan dan transaksi jangka panjang.
Keduanya bisa berjalan bersama.
Coba Hitung Fee Marketplace Bisnismu Sendiri
Kalau selama ini kamu hanya melihat angka omzet dari dashboard marketplace, mungkin sekarang waktunya melihat angka yang lebih penting:
Berapa sebenarnya biaya yang kamu keluarkan untuk mendapatkan setiap transaksi?
Mulai dari:
- biaya admin,
- biaya layanan,
- biaya proses,
- promo,
- iklan,
- sampai biaya operasional.
Karena perbedaan beberapa persen bisa menjadi jutaan rupiah ketika omzet sudah besar.
Kalau ingin mengetahui seberapa besar biaya marketplace yang mungkin menggerus margin bisnis, kamu bisa mencoba Kalkulator Efisiensi Biaya Marketplace Jangkar untuk membuat simulasi berdasarkan kondisi bisnismu.
Kesimpulan
Jadi, marketplace potong berapa?
Jawabannya tidak bisa disamaratakan.
Besarnya biaya dapat dipengaruhi oleh platform, kategori produk, status seller, program yang diikuti, dan berbagai biaya tambahan lainnya.
Contoh sederhana menunjukkan bahwa pada omzet Rp10 juta, perbedaan fee beberapa persen saja sudah bisa menghasilkan selisih ratusan ribu hingga lebih dari satu juta rupiah.
Ketika omzet mencapai Rp100 juta atau lebih, dampaknya tentu menjadi jauh lebih besar.
Karena itu, jangan hanya mengejar:
“Order harus ramai.”
Tetapi mulai ukur:
“Setelah semua biaya, berapa profit yang benar-benar tersisa?”
Marketplace tetap bisa menjadi channel penjualan yang efektif.
Namun semakin besar bisnis berkembang, semakin penting juga membangun aset digital sendiri agar bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada biaya dan aturan platform pihak lain.
Mulai Hitung dan Bangun Channel Digital Bisnismu
Kalau kamu mulai merasa fee marketplace semakin besar dan ingin tahu apakah bisnis sudah waktunya punya channel penjualan sendiri, jangan langsung mengambil keputusan berdasarkan asumsi.
Hitung dulu kondisinya.
Kamu bisa mulai dari Kalkulator Efisiensi Biaya Marketplace untuk melihat gambaran biayanya.
Kalau ingin membahas kebutuhan website ecommerce dan strategi digital secara lebih menyeluruh, pelajari solusi ecommerce Jangkar Digital.
Atau kalau ingin langsung berdiskusi dengan tim, konsultasi gratis via WhatsApp dan ceritakan kondisi bisnismu.
Tidak harus langsung pindah dari marketplace.
Yang penting, mulai tahu berapa biaya yang sebenarnya kamu bayar untuk setiap penjualan dan seberapa besar kontrol yang kamu punya atas bisnis sendiri.
Baca juga: Marketplace vs Website: 5 Aset Bisnis yang Diam-Diam Anda Korbankan



